The girl’s name Alldine \a-lldi-ne, al(l)-dine\ is a variant of Alida (Latin), and the meaning of Alldine is “small winged one”.

 

Ga ada yang istimewa dgn postingan kali ini. Gw hanya iseng2 mencari arti nama Alldine di web. Well, ternyata I got it.  Alldine… small winged one… Dan yang terlintas pertama kali di benakku adalah… ‘kok mirip seperti Leeteuk ya….’ Hehehe.. ooops.. sorry, tiap kali liat or mendengar sesuatu yang berhubungan dengan special white angel wing, pasti kepikiran ttg dia. ^^

Tapi, ngomong2 soal nama Alldine, gw ceritain deh knp gw pakai label Alldine.

Nama Alldine tiba2 aja terlintas dibenak saat aku naik angkot pagi2 menuju sekolah sewaktu aku SMP. Kalau dipikir2, lama juga ya. Waktu itu aku melihat ada grafiti bertuliskan Aldi. Well, kupikir, nama itu bagus juga, tapi itu kan nama cowok. kira2 apa ya nama untuk ceweknya. Nah, terlintaslah nama itu. Alldine. Pas sekali, karena di rumah pun, aku dipanggil Din. So simple, tapi sejak itu, aku terus menggunakan nama itu di dunia maya. ^o^

 

Teruslah bermimpi, maka hidupmu akan penuh warna

Well, itu benar kan. apa arti hidupmu jika kau tidak punya mimpi? tidak punya tujuan untuk kau capai?

Jadi, gak salah dong kalau gw terus bermimpi… walau, mimpi gw yang sekarang adalah tentang suju semua. hehehe…

I wish to meet them.

I wish i could be their best friend.

I wish I can hang out with them.

I wish i could speak Hangul.

I wish i could go to Korea.

I wish i have their email add.

I wish i have their phone number.

I want to collect their albums.

I want to update their activities.

I want to go to their concert.

I want to be with them in the back stage.

I want to talk to them.

I want to go dinner with them.

all of things… especially with Leeteuk.

People said that I’m dreaming. They told me to WAKE up.  They told me to live in reality. They told me to find a real man. They told me that’s the cause I’m still single now. They told me bla..bla..bla…

I think I have to make it clear now.

First, I am not dreaming.

I am still in this reality called earth. If not, who do you think the person writes this blog? I am not in desperation condition (except desperate to fulfill my dreams up there, hehehe).

Second, I know there are too many barriers between us.

Oh, come on, i still have my mind, He is a Korean and I am an Indonesian… he is an artist, I am a fan-girl.  So far away a part. I will not broken my heart if he is in relationship (well, maybe a little.. ^_^”). I still want a guy that i can touch skin to skin. not skin to paper or monitor (T.T)

Third, I really really like them very much.

They can say i am childish, obsession to suju, my time has already pass, etc. but i admit it that i like them. they are the survivor of me in the dark time. they’re brighten my life.

This is my life, i want to fill it with colors that i like. so, just let me dream sometimes. thank you for worrying me, but i am okay.

Buat yang penasaran tentang suju, nanti gw bahas (pasti) lebih lanjut. Tapi, untuk mengurangi rasa penasaran, gw kasi tau sedikit deh. Suju itu kepanjangan dari SUper JUnior, boyband korea yang beranggotakan 13 orang. Nah, Leeteuk (nama aslinya adalah Park Jung Soo) itu salah satu anggotanya, dan bisa dibilang, ketua mereka. ^o^

Baru saja aku menonton acara tv yang meminta para pemirsanya untuk selalu bermimpi dan bercita-cita.

Wew.. Quote yang sangat menarik sekali. Mau ga mau, aku jadi teringat pada suatu masa kecilku. Cita-cita pertama yang kuingat.

Dari album kenangan masa silamku yang sudah memudar, aku berhasil menarik beberapa benang kabur. Saat itu, masa-masa awal sekolah dasarku, kira-kira kelas 2 SD. Guruku meminta aku dan teman-temanku untuk menuliskan cita-cita kami pada buku PS. Yang sudah selesai, maju ke meja guru untuk diperiksa, diberi paraf, lalu beres-beres pulang. Aku merenung. Tak tahu mau menulis apa. Padahal kulihat dari sudut mataku, beberapa murid sudah maju dan mengantri di depan dengan antusias. Saling membisikkan cita-cita mereka masing-masing. Aku masih tidak ada gambaran mau menjadi apa aku kelak ketika dewasa. Lalu tiba-tiba saja terlintas di benakku. Gambaran seorang dewasa yang sangat kukagumi. Dengan keyakinan 100% aku maju ke depan. Mengantri sebentar lalu menyerahkan bukuku untuk diperiksa guru. Menunggu.

Tak berapa lama, bukuku dikembalikan. Tapi tidak ada paraf dibawahnya. Aku menerima dengan bingung. Lalu guruku berkata… “Diana, tuliskan CITA-CITAmu.”

Aku kembali ke bangku dan menatap 3 kata yang sudah kutuliskan. Tidak mengerti. Apa ini tidak termasuk cita-cita? Apa aku tidak boleh menjadi “IBU RUMAH TANGGA” ???

Aku kembali merenung. Cita-cita… Sesuatu yang kau ingin lakukan di masa depan. Well, aku teringat gambaran ibuku. Pagi-pagi pergi ke pasar. Tawar menawar dengan pedagang, memilih bahan-bahan masakan yang baik, pulang ke rumah dengan menenteng segitu banyak belanjaan yang berat. Belum lagi kalau aku minta dibelikan semangka atau mangga (memang anak kurang ajar… Udah tau belanjaan banyak banget, masih aja minta buah-buahan yang beratnya minta ampun. ^_^”). Sesampainya di rumah langsung masak, membuat kue, bikin es (saat itu di daerah rumahku, sangat sedikit yang punya kulkas. Jadi ibuku berinisiatif jualan es. ^^). Ngasi makan adik yang masih balita, menjaganya bermain (adikku agak hiper dalam hal ini), melerai kami berdua (hehehehe… harus kuakui, waktu kecil dulu aku gak akur sama adikku), dan tentunya melayani pembeli es. Kerjaan seabrek itu masih belum terhitung membereskan rumah dan kegiatan bermasyarakat (baca, arisan ibu-ibu). Aku pikir.. Semua itu pekerjaan yang cukup berat namun menyenangkan. Bisa dimasukkan sebagai cita-cita.

Tanpa mengubahnya, aku kembali maju ke depan kelas. Kini sudah tidak ada antrian. Tampaknya hampir semua murid sudah maju dan mendapatkan paraf.

Ibu guruku juga bersikeras tetap tidak mau menandatangai bukuku. Dia malah mengatakan kepadaku, “Semua wanita dewasa pasti nantinya akan menjadi ibu rumah tangga. Cari cita-cita yang lain!”

Kedua kalinya aku berjalan lesu ke bangkuku. Aku tidak tahu mau menulis apalagi. Aku hanya mau jadi ibu rumah tangga. Kalau semua wanita akan jadi ibu rumah tangga, kenapa aku disuruh menuliskan cita-cita. Toh sudah pasti para wanita akan meniti karir sebagai ibu rumah tangga kan (pemikiranku waktu itu lempeng banget ya… -.-”).

Akhirnya aku mendapat perhatian dari teman-teman yang duduk di dekatku. Mereka bertanya kenapa aku belum memperoleh paraf guru. Dengan polosnya aku menjawab, “Aku disuruh tulis yang lain.” Mereka melihat tulisanku dan spontan saja salah seorang dari mereka berkata, “Sudah, tulis saja dokter. Pasti dikasi paraf. Aku saja tulis dokter, dapet kok. Biar kita cepet pulang. Ayo cepet.”

Dan aku baru sadar. Teman-teman yang lain sudah memasukkan buku-buku ke dalam tas dan bersiap-siap pulang. Aku tidak suka ditunggu dan menjadi yang terakhir. Walau aku tidak suka pada saran temanku, akhirnya kuhapus 3 kata tersebut dan kuganti menjadi 1 kata. DOKTER. Dan aku pun berlari ke depan. Tanpa komentar, guruku langsung membubuhkan tanda tangannya. Dalam hatiku aku berkata, “Betapa mudahnya membohongi guru…”

Well, mungkin ini saatnya untuk mewujudkan impian masa kecilku itu. Di saat-saat jobless seperti ini. Tidak ada salahnya kan belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik…^o^

Setelah sekian lama tidak menangis, akhirnya aku menangis juga barusan. Tapi kali ini bukan tangisan pilu nan sedih. Melainkan, tangisan haru.

Penyebabnya? Too simple… Mungkin aku akan ditertawakan jika aku menyebutkannya. Tapi pasti akan aku sebutkan… FILM.

Ya. Aku menangis dari awal hingga akhir aku menonton dvd film P.S. I Love You.

Aku tak tahu pasti kenapa aku yang jarang mengeluarkan emosi pada saat menonton film (Kecuali di film Harry Potter, Spiderman 3, dan film2 yang kulupakan…)   bisa meneteskan air mata saat menonton film P.S. I Love You. Tapi, di film-film yang kusebutkan tadi, aku tidak menangis loh. Hanya sekali dua kali teriakan (tapi kalau Synthia, Christi, Jenni, dan Dwi membaca ini, mereka pasti bilang: “BOHONG!!! Bukan sekali dua kali… tapi sepanjang film…” Well, yah, untuk film-film khusus memang emosiku sedikit keluar. Tapi itu di bioskop. dimana suasana dan sound effect begitu mendukung.

Tapi film ini… aku hanya menontonnya sendiri sore-sore di komputerku dengan speaker komputer kualitas standar biasa. Aku bukan saja meneteskan setitik dua titik air mata… Tapi boleh dibilang banjir air mata…

Padahal aku sudah tamat membaca novelnya beberapa tahun yang lalu sewaktu aku masih kuliah, masih kost, masih sering pinjem2 bacaan, masih sering kumpul2, masih sering bergosip (yang ini masih tetap sampai sekarang. Hehehe…) Tapi entah mengapa, aku malah menghabiskan berlembar-lembar tissue si film ini. Para kru pembuat film ini patut kuacungi 2 jempol… Hebat sekali. Bisa membuat seorang Diana menangis kembali setelah sekian lama dirinya menganggap kelenjar air matanya sudah kering… Oh, tak lupa juga untuk penulis novelnya… A very nice story.

Tapi aku senang… bukankah ini menandakan bahwa sebenarnya aku masih memiliki hati?!  Aku masih HIDUP…

Dan, yang kuambil hikmah dari film itu…

But He is just one chapter in your life. There’ll be more. So here it comes, the big one. Don’t be afraid to fall in love again. Watch out for that signal, when life as you know it ends.

-sorry for editing-

You can search the original quotes in:

http://everythingquotes.wordpress.com/2008/06/12/ps-i-love-you-1/

Untuk orang” yang kucintai,

P.S. I Love You

Hai…

Please let me introduse my self…..

My name  is Alldine.

Do you wanna know about me?

Just read my blogs, and you will who i really am….

N.B: Don’t be surprise on what you get in the future.

(^o^)