Baru saja aku menonton acara tv yang meminta para pemirsanya untuk selalu bermimpi dan bercita-cita.
Wew.. Quote yang sangat menarik sekali. Mau ga mau, aku jadi teringat pada suatu masa kecilku. Cita-cita pertama yang kuingat.
Dari album kenangan masa silamku yang sudah memudar, aku berhasil menarik beberapa benang kabur. Saat itu, masa-masa awal sekolah dasarku, kira-kira kelas 2 SD. Guruku meminta aku dan teman-temanku untuk menuliskan cita-cita kami pada buku PS. Yang sudah selesai, maju ke meja guru untuk diperiksa, diberi paraf, lalu beres-beres pulang. Aku merenung. Tak tahu mau menulis apa. Padahal kulihat dari sudut mataku, beberapa murid sudah maju dan mengantri di depan dengan antusias. Saling membisikkan cita-cita mereka masing-masing. Aku masih tidak ada gambaran mau menjadi apa aku kelak ketika dewasa. Lalu tiba-tiba saja terlintas di benakku. Gambaran seorang dewasa yang sangat kukagumi. Dengan keyakinan 100% aku maju ke depan. Mengantri sebentar lalu menyerahkan bukuku untuk diperiksa guru. Menunggu.
Tak berapa lama, bukuku dikembalikan. Tapi tidak ada paraf dibawahnya. Aku menerima dengan bingung. Lalu guruku berkata… “Diana, tuliskan CITA-CITAmu.”
Aku kembali ke bangku dan menatap 3 kata yang sudah kutuliskan. Tidak mengerti. Apa ini tidak termasuk cita-cita? Apa aku tidak boleh menjadi “IBU RUMAH TANGGA” ???
Aku kembali merenung. Cita-cita… Sesuatu yang kau ingin lakukan di masa depan. Well, aku teringat gambaran ibuku. Pagi-pagi pergi ke pasar. Tawar menawar dengan pedagang, memilih bahan-bahan masakan yang baik, pulang ke rumah dengan menenteng segitu banyak belanjaan yang berat. Belum lagi kalau aku minta dibelikan semangka atau mangga (memang anak kurang ajar… Udah tau belanjaan banyak banget, masih aja minta buah-buahan yang beratnya minta ampun. ^_^”). Sesampainya di rumah langsung masak, membuat kue, bikin es (saat itu di daerah rumahku, sangat sedikit yang punya kulkas. Jadi ibuku berinisiatif jualan es. ^^). Ngasi makan adik yang masih balita, menjaganya bermain (adikku agak hiper dalam hal ini), melerai kami berdua (hehehehe… harus kuakui, waktu kecil dulu aku gak akur sama adikku), dan tentunya melayani pembeli es. Kerjaan seabrek itu masih belum terhitung membereskan rumah dan kegiatan bermasyarakat (baca, arisan ibu-ibu). Aku pikir.. Semua itu pekerjaan yang cukup berat namun menyenangkan. Bisa dimasukkan sebagai cita-cita.
Tanpa mengubahnya, aku kembali maju ke depan kelas. Kini sudah tidak ada antrian. Tampaknya hampir semua murid sudah maju dan mendapatkan paraf.
Ibu guruku juga bersikeras tetap tidak mau menandatangai bukuku. Dia malah mengatakan kepadaku, “Semua wanita dewasa pasti nantinya akan menjadi ibu rumah tangga. Cari cita-cita yang lain!”
Kedua kalinya aku berjalan lesu ke bangkuku. Aku tidak tahu mau menulis apalagi. Aku hanya mau jadi ibu rumah tangga. Kalau semua wanita akan jadi ibu rumah tangga, kenapa aku disuruh menuliskan cita-cita. Toh sudah pasti para wanita akan meniti karir sebagai ibu rumah tangga kan (pemikiranku waktu itu lempeng banget ya… -.-”).
Akhirnya aku mendapat perhatian dari teman-teman yang duduk di dekatku. Mereka bertanya kenapa aku belum memperoleh paraf guru. Dengan polosnya aku menjawab, “Aku disuruh tulis yang lain.” Mereka melihat tulisanku dan spontan saja salah seorang dari mereka berkata, “Sudah, tulis saja dokter. Pasti dikasi paraf. Aku saja tulis dokter, dapet kok. Biar kita cepet pulang. Ayo cepet.”
Dan aku baru sadar. Teman-teman yang lain sudah memasukkan buku-buku ke dalam tas dan bersiap-siap pulang. Aku tidak suka ditunggu dan menjadi yang terakhir. Walau aku tidak suka pada saran temanku, akhirnya kuhapus 3 kata tersebut dan kuganti menjadi 1 kata. DOKTER. Dan aku pun berlari ke depan. Tanpa komentar, guruku langsung membubuhkan tanda tangannya. Dalam hatiku aku berkata, “Betapa mudahnya membohongi guru…”
Well, mungkin ini saatnya untuk mewujudkan impian masa kecilku itu. Di saat-saat jobless seperti ini. Tidak ada salahnya kan belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik…^o^